Di Balikpapan Beredar Permen Susu Yang Mengandung Narkoba

Muara Post - BALIKPAPAN - Beredarnya informasi mengenai isu permen Rasa Susu mengandung zat berbahaya narkoba, membuat pedagang di Kota Balikpapan ketar-ketir.
Ini terungkap saat Tribunkaltim.co menyambangi sebuah warung mini market Toko 69 yang ada di Jalan Panjaitan, Sumber Rejo, Kelurahan Balikpapan Tengah, Sabtu (23/9/2017).
Lapak jualan Diana mini market Toko 69 Kelurahan Sumber Rejo, Kecamatan Balikpapan Tengah, Kota Balikpapan pada Sabtu (23/9/2017) pagi. Namun kini, permen merek Rasa Susu tidak lagi dipajang dilapak ini setelah mendapat kabar buruk dari media sosial, permen dianggap mengandung zat berbahaya.

Diana, pengelola Toko 69 mengaku, permen merek Rasa Susu berbentuk sapi putih pernah dijual di warungnya sekitar dua minggu yang lalu.
"Iya pernah ada. Pernah dijual disini tapi sekarang sudah tidak kami jual. Kami tidak pajang lagi," ujarnya.

Pernyataan Diana itu terungkap setelah Tribunkaltim.co mencocokkan gambar yang beredar di grup-grup WhatsApp dengan bentuk dan merek permen Rasa Susu.
Hal yang sama bagi Diana, saat pihaknya mendapat kabar dari beberapa WhatsApp dan media sosial (medsos) seperti Facebook, langsung menyingkirkan permen tersebut dari lapak jualannya.

Kala itu, informasi yang tersiar di media sosial tersebut dinyatakan permennya mengandung zat narkoba, sama seperti yang dikandung oleh pil PPC.
"Sata dapat berita dari media sosial. Dilihat kok, sama bentuknya ya. Saya takut juga. Langsung saya hentikan penjualan. Permen disimpan, tidak dijual," ujar Diana.
Tujuan Diana memberhentikan penjualan permen tersebut untuk menghindari kontroversi yang berkembang di tengah masyarakat.

"Takut saya. Daripada nanti terjadi apa-apa lebih baik saya tidak jual lagi," kata wanita berjilbab ini.

Secara pribadi, Diana masih penasaran karena permen tersebut tidak diberitahukan oleh Badan Pengawas Obat atau dari kepolisian. Dirinya belum disambangi pihak yang berwenang.

"Siap saja kalau mau diambil sample. Belum ada yang datang kesini. Saya mau tahu (permennya) benar atau tidak mengandung zat berbahaya," katanya.
Sebagai penjual, Diana mengaku tidak tahu persis zat makanan dan minuman yang dijualnya. Permen diperoleh sekitar dua minggu yang lalu, begitu ada kabar tidak sedap langsung memberhentikan penjualan.

Saat menjual barang biasanya Diana mengacu hanya pada penggunaan pemakai barang dan masa berlakunya.

"Saya dapat barangnya belanja di agen yang ada di Gunung Kawi," kata Diana.
Lagi pula, waktu itu Diana hanya belanja satu paket saja. Isinya sekitar 100 permen dengan harga Rp 13 ribu.

"Bentuknya unik. Menarik. Bagus buat jualan. Banyak anak-anak suka pastinya," ungkapnya.

Namun semenjak barang itu dijual, baru ada satu pembeli yang belanja permen tersebut. Dan sampai akhirnya belum ada laporan keluhan pembeli itu ke Diana.
"Belum banyak yang beli. Mungkin warga juga sudah banyak yang dapat kabar dari pesan berantai kalau permennya tidak layak konsumsi," ujar Diana.

Sebagai penjual, dia tidak bisa berbuat banyak. Diana hanya mengambil langkah untuk menahan permennya untuk sementara tidak dijual ke masyarakat.

"Diproduknya (permen Rasa Susu) sudah tercantum dari BPOM. Sudah ada kabar yang tidak enak, saya tetap tidak berani jual lagi," ungkapnya.  ( *