Kisah Soegimin Sang Pengangkat Jenazah Para Jendral Di Lubang Buaya

Muara Post - Soegimin masih ingat betul aroma busuk yang berasal dari sebuah sumur di salah satu kawasan di Jakarta Timur 52 tahun silam. Pada saat itu, dia mendapat tugas dari komandannya untuk mengangkat jenazah 6 jenderal dan satu perwira pertama TNI AD.
Sumur itu saat ini dikenal dengan Lubang Buaya yang lokasinya di Pondok Gede, Jakarta Timur. Tempat itu dijadikan pembuangan para korban gerakan 30 September tahun 1965.

"Saya tidak berfikir kalau dapat tugas seperti itu," kata Soegimin di kediamannya di Surabaya, Kamis, 21 September 2017. "Kebetulan tugas itu bisa berhasil."
Soegimin kini berusia 79 tahun. Pada saat mendapat tugas mengevakuasi jenazah korban G30S itu, dia adalah seorang tentara. Pangkatnya waktu itu Pembantu Letnan Dua di Korps Komando Operasi (KKO), sekarang menjadi Korps Marinir.
Menurut Soegimin saat itu dia bersama 11 anggota Marinir lainnya mendapat tugas istimewa. Keistimewaan tugas itu karena dia diberitahu atasanya secara dadakan.
"Salah satu perwira angkatan darat (Kostrad) waktu itu Pak Sukendar menuhi perwira Mako KKO atas perintah Soeharto," ujar Soegimin. "Suruh cari orang yang mampu melaksanakan tugas (evakuasi pengangkatan jenazah) ini."
Soegimin menunjukkan foto penggalian Lubang Buaya pada peristiwa 30 September 1965. 
Soeharto saat itu berpangkat mayor jenderal di Pangkostrad. Menurut Soegimin, persiapan evakuasi berjalan singkat. Dia diberitahu atasannya pada 3 Oktober 1965 malam.
Keesokan harinya, dia bersama rombongan anggota tim evakuasi yang terdiri dari para pasukan Marinir berangkat menuju Lubang Buaya. Pada saat itu, tak ada yang tahu lokasi persis Lubang Buaya.

Yang dia ingat hanya lokasinya tak jauh dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Rombongan Soegimin bahkan sempat tersesat dan berputar di satu lokasi selama dua jam.
"Kesimpulan terakhir, kami tidak bisa menemukan daerah itu (Lubang Buaya) dengan jelas," ujar Soegimin. "Pas kami mau keluar Halim, kami bertemu dengan polisi Angkatan Udara. Kami tanya dan dia berani menunjukkan."
Sesampainya di Lubang Buaya, Soegimin kaget. "Ternyata Lubang Buaya sudah dikuasai pasukan-pasukan baret merah," ujar dia.

Soegimin dan tim sebelum mengevakuasi diberi pengarahan dengan para dokter. "Pesannya (dokter) saat evakuasi jenazah jangan sampai diikat bagian leher," ujar dia.
Dengan mengenakan alat dan seutas tali, Soegimin dan tim mulai mengevakuasi para jenderal dan perwira Angkatan Darat itu di dalam sumur yang dalamnya 12 meter dengan diameter 75 sentimeter. Mereka masuk ke liang sempit itu.
Soegimin kaget ketika tahu bahwa posisi jenazah korban G30S di dalam sumur kondisinya sangat mengenaskan. "Semua kakinya itu di atas. Berarti saat itu dijungkir, kepala di bawah," ujar dia.

Jenazah yang paling mengenaskan, kata Soegimin, adalah layon Jenderal Ahmad Yani. "Karena saat ditarik ke atas, perutnya sudah mengeluarkan kotoran. Kulitnya sudah mengeluarkan pembusukan."
Jasad 6 jenderal dan satu perwira yang dibenam di sumur itu adalah Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani, Letnan Jenderal (Anumerta) Siswondo Parman, Letnan Jendral (Anumerta) Suprapto, Letnan Jenderal (Anumerta) Mas Tirtodarmo Harjono.
Kemudian ada Mayor Jenderal (Anumerta) Donald Isaac Panjaitan, Mayor Jenderal (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten (Anumerta) Pierre Tendean.