Ini yang Disampaikan Dr Fajran Zain pada Pertemuan FAMe Ke-30

Plagiasi tidak hanya menjadi persoalan di dunia akademisi saja, di dunia sosial media dan blog juga cukup rentan berseliweran praktik-praktik plagiasi. Kita bisa melihat sendiri di facebook, twitter, instagram dan media sosial lainnya seakan tak berdosa mengupload foto, video, musik dan tulisan orang lain tanpa menyebutkan sumbernya.
Ini yang Disampaikan Dr Fajran Zain pada Pertemuan FAMe Ke-30

Permasalahan plagiasi tidak hanya terjadi di Aceh, juga menjadi masalah di tingkat nasional bahkan internasional. Jika yang melakukannya seorang profesor, maka izin untuk mengajar akan dicabut. Jika yang melakukannya adalah seorang mahasiswa, maka ia terancam tak bisa kuliah lagi.
[post_ads]
Inilah yang disampaikan oleh Dr Fajran Zain MA, Akademisi UIN Ar-Raniry yang juga Komisioner KKR Aceh saat mengisi kelas Forum Aceh Menulis ke-30, Rabu siang, 14 Februari 2018 di Ruang Pertemuan Duek Pakat Lantai 2, Jalan Profesor Ali Hasyimi, Pango-Lamteh, Banda Aceh.
Ini yang Disampaikan Dr Fajran Zain pada Pertemuan FAMe Ke-30

Fajran mengatakan plagiasi tidak hanya pada karya tulis saja, ide pun yang tidak menyebutkan sumbernya juga disebut plagiasi.

"Semakin canggihnya teknologi, semakin mempersempit ruang gerak bagi plagiator. Apalagi sekarang ini, dengan hadirnya mesin/alat pendeteksi plagiat, membuat para plagiator harus berpikir berpuluh-puluh kali untuk mencomot karya orang tanpa menyebutkan sumber," ucap Fajran.

Namun tidak jarang pula ada kampus-kampus yang membiarkan plagiasi dilakukan oleh mahasiswanya. Alasannya berbagai macam, bisa jadi dosennya tak sempat memeriksa dengan teliti, atau pun pemakluman karena mereka masih belajar. Padahal mereka harus dibiasakan menghargai karya orang sejak dini.
[next]
“Yang lebih lucunya lagi, kadang pada sebuah seminar pemateri menyampaikan materi melalui slide, dan slide itu diminta oleh peserta, lalu pada kesempatan lain, slide itu diganti namanya menjadi milik orang lain,” katanya.

Plagiasi tak hanya terjadi pada karya tulis semata, gambar, suara, musik, instrumen, video, karikatur, ilustrasi dan beberapa hal lainnya. Jika tidak meminta izin, maka dianggap plagiat. Bagi orang yang bermartabat, ia tak akan mencuri ide orang. Ia akan membuat sendiri.

Dalam paparanya berdasarkan pengalaman, ada beberapa langkah agar seorang penulis itu terhindar dari plagiasi.

Fajran mengatakan bertanya kepada seorang profesor atau yang ahli di bidangnya sangat penting, agar karya kita menjadi beda dengan orang lain. Dengan kita bertanya, kita akan mendapatkan saran dari para ahli. Kita akan diarahkan pada kajian terdahulu (literatur review) untuk melihat apa yang belum diteliti orang lain.

"Aspek novelty (kebaruan) dalam sebuah karya itu sangat penting. Misalnya fenomena warung kopi di Aceh itu hal biasa, tapi ketika warung kopi di Aceh menjadi tempat transaksi sabu-sabu di Aceh ini yang menjadi hal yang baru," imbuh Fajran.

Kemudian Fajran menambahkan setiap buku yang kita baca, usahakan membuat resume, sehingga ketika membuat artikel, dengan mudah bisa menemukan referensi yang dibutuhkan. Selain itu kita bisa cermat dan tak salah ketika mengutip.
[post_ads_2]
"Jangan sekali-kali menulis ide orang lain. Kita memang perlu ide orang lain untuk memperkuat n ide kita, lalu kita menambahkan dengan ide yang baru dari kita. Lebih bagus lagi, cari tulisan orang lain yang mengutip ide kita sebelumnya, itu akan memperkuat ide kita," tegas Fajran.

Parafrase (menulis ulang ide orang lain)
Selalu bahasakan ulang karya orang yang mau dikutip untuk dimasukkan dalam karya kita.

"Usahakan tidak sama persis teks-teks yang dicomot, tapi reparasikan dengan bahasa sendiri. Jangan salah, parafrase beda dengan mengantikan kosa kata. Walaupun yang kita kutip dan dibahasakan ulang, tetap harus menyebutkan sumbernya," katanya.

*{NAJMI}*