Relawan Pendukung Jokowi Ramai-Ramai Pindah Dukung Prabowo, Ini Sebabnya!

 RING SATU - Sejumlah kelompok menyatakan dukungan ke bakal calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Relawan Jokowi yang kini bergabung dengan Prabowo-Sandiaga (Foto: tribunnews.com)

Menariknya, salah satu kelompok itu merupakan kumpulan orang-orang yang pernah membela Joko Widodo atau Jokowi pada Pilpers 2014.

Sebagaimana yang diberitakan liputan6.com (15/9), para relawan pendukung Jokowi yang pindah haluan, antara lain Guntur Siregar (Sekjen Projo), Ucok Syafti Hidayat (Pendiri Bara JP), Febby Lintang (Jaringan Alumni Lintas Perguruan Tinggi), Dadan Hamdani (Deklarator Jokower) yang tergabung dalam wadah Indonesia Muda Maju Bersama Sandiaga.

Ketua Relawan Indonesia Muda, Lutfi Nasution mengatakan, berubahnya arah dukungan mereka, karena Jokowi tidak menjalankan Nawacita yang telah disusun bersama. Penilaian ini berdasarkan evaluasi yang dilakukan mereka selama 4 tahun pemerintahan Jokowi-JK.

Oleh karena itu, mereka menilai, harus ada sosok pemimpin baru yang dapat menjawab tantangan ke depan yang lebih besar.

Mereka melihat Indonesia butuh generasi muda. Sejatinya, saat Jokowi memilih Maruf Amin sebagai cawapres, untuk mendinginkan tensi dengan kelompok-kelompok Islam.
[ads-post]
Namun, imbasnya popularitas Jokowi justru menurun di mata relawan yang umumnya ingin hal yang baru. Pada 2014, Jokowi memenuhi unsur kebaruan itu.

Apalagi, kelemahan pemerintahan Jokowi di bidang ekonomi tentu tak bisa ditambal oleh Maruf Amin, yang piawai dalam hal ekonomi syariah, namun belum tentu hebat dalam hal ekonomi makro.

Para relawan Jokowi memandang hal itu. Selain faktor ekonomi, perpecahan dalam tubuh Projo mengakibatkan ormas pendukung Jokowi mengalihkan dukungan kepada Prabowo.

Projo memiliki akar yang kuat di berbagai provinsi. Guntur mengklaim, sebagian besar anggota Projo akan mengikuti dirinya, terutama di Sumatera kecuali Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Rupanya fenomena saling tukar pendukung masih terus berlaku. Itulah politik, taka da kawan yang abadi, hanya kepentingan yang membuat politikus bersatu.

Mereka melihat Indonesia butuh generasi muda. Sejatinya, saat Jokowi memilih Maruf Amin sebagai cawapres, untuk mendinginkan tensi dengan kelompok-kelompok Islam.